Mono-Material vs Laminate: Strategi Desain untuk Daur Ulang yang Lebih Baik

Halo Teman ISKI! Tahukah kamu, kemana perginya kemasan makanan atau minuman yang sering kita konsumsi? Dan apa yang sebenarnya ada di balik kemasan yang kita pakai setiap hari? Pertimbangan dalam memilih kemasan makanan tidak hanya soal tampilan, melainkan juga bagaimana kemasan tersebut berdampak pada lingkungan sekaligus citra brand kamu sebagai bisnis yang peduli pada keberlanjutan.

Supaya kamu tidak salah langkah, ISKI akan membantu membahas apa saja yang perlu diperhatikan dalam menentukan strategi desain untuk kemasan daur ulang yang lebih baik.

Tantangan Limbah Kemasan di Indonesia

Menurut data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Indonesia menghasilkan sekitar 64 juta ton sampah per tahun dan jumlah ini terus meningkat setiap tahunnya. Dari total volume tersebut, 60% berasal dari limbah rumah tangga. Sayangnya, hanya 10–15% limbah yang berhasil didaur ulang, sementara sisanya berakhir di TPA atau tidak terkelola dengan baik.

Fakta ini juga didukung World Bank, yang menempatkan Indonesia sebagai penyumbang sampah plastik terbesar kedua di dunia setelah China, dengan sekitar 3,2 juta ton sampah plastik setiap tahunnya. Hal ini tidak lepas dari kebiasaan masyarakat yang masih mengandalkan plastik sekali pakai.

Salah satu jenis plastik yang banyak digunakan di industri FMCG adalah plastik multilayer atau laminate. Meski memiliki banyak keunggulan, laminate justru menimbulkan masalah besar bagi lingkungan. Di sinilah kemasan mono-material hadir sebagai solusi untuk mendukung pengurangan sampah plastik di Indonesia.

Apa itu Mono Material dan Laminate?

Ada perbedaan mendasar antara mono-material dan laminate.

Kemasan laminate adalah jenis kemasan yang terdiri dari beberapa lapisan material seperti kertas, foil, dan plastik yang direkatkan bersama. Struktur berlapis ini membuatnya sulit didaur ulang. Sebelum proses daur ulang, lapisan-lapisan tersebut harus dipisahkan terlebih dahulu. Proses ini memakan banyak waktu, tenaga, dan biaya, sehingga sebagian besar industri daur ulang enggan menerimanya. Akibatnya, kemasan laminate kerap berakhir di TPA atau dibakar.

Sebaliknya, mono-material terbuat dari satu jenis bahan saja, seperti PE mono (PE film) atau PP mono (PP film). Karena hanya menggunakan satu material, kemasan ini tidak memerlukan pemisahan lapisan sehingga proses daur ulang menjadi jauh lebih sederhana melalui material recycling, yaitu penggunaan kembali material tanpa mengubah sifat aslinya.

Tren Industri dan Regulasi Global

Di tingkat global, regulasi Packaging and Packaging Waste Regulation (PPWR) menetapkan standar ketat untuk kemasan yang dapat didaur ulang, digunakan kembali (reusable), dan mendukung pengurangan sampah plastik. Uni Eropa menargetkan bahwa pada tahun 2030, semua kemasan yang beredar harus dapat didaur ulang. Aturan ini berlaku bagi seluruh rantai pasok: produsen, distributor, importir, pemilik brand, hingga desainer kemasan.

Tren ini juga berdampak pada packaging Indonesia. Mulai 2025, regulasi global dan kesadaran konsumen mendorong pertumbuhan pasar flexible packaging di Indonesia. Data mencatat nilai pasar flexible packaging di Indonesia mencapai USD 4,58 miliar pada 2025 dan diperkirakan meningkat menjadi USD 5,77 miliar pada 2030. Industri F&B, personal care, dan farmasi menjadi pendorong utama pertumbuhan ini, dengan semakin tingginya adopsi material mono-material seperti PE mono.

Tahun 2025 pun menjadi titik balik industri packaging Jakarta dan nasional untuk beralih menuju kemasan makanan ramah lingkungan.

Strategi Desain untuk Daur Ulang yang Lebih Baik

Ketika berbicara tentang kemasan makanan dan minuman, tantangan utama adalah bagaimana kemasan dapat melindungi produk sekaligus menjadi kemasan makanan ramah lingkungan. Salah satu strategi utama adalah beralih ke mono-material seperti PE film atau PP film, yang lebih mudah didaur ulang dibandingkan kemasan laminate.

Selain itu, pemakaian tinta dan adhesive juga perlu diminimalisir. Semakin sedikit tinta dan perekat yang digunakan, semakin tinggi kualitas hasil kemasan daur ulang.

Namun, keberhasilan kemasan ramah lingkungan tidak hanya bergantung pada produsen. Konsumen juga memiliki peran besar dalam memilah dan mengelola sampah kemasan dengan benar. Edukasi publik mengenai cara membuang dan mendaur ulang kemasan adalah langkah penting. Di sisi lain, perusahaan harus aktif berkolaborasi dengan regulator serta pengelola limbah untuk menciptakan ekosistem pengurangan sampah plastik yang berkelanjutan.

Bagi pelaku industri, mulai dari perusahaan packaging Jakarta, pabrik kemasan di Indonesia, hingga penyedia jasa cetak kemasan, menerapkan strategi desain berbasis mono-material adalah salah satu kunci untuk menciptakan kemasan makanan ramah lingkungan. Dengan mengadopsi pendekatan ini, industri tidak hanya berkontribusi pada pengurangan sampah dan keberlanjutan lingkungan, tetapi juga membangun citra positif sebagai brand yang peduli pada masa depan bumi dan konsumen.

Selain itu, memilih solusi kemasan dari ISKI juga menjadi strategi penting, karena ISKI menghadirkan inovasi kemasan berkelanjutan yang selaras dengan kebutuhan industri sekaligus tuntutan lingkungan.

Kenapa Memilih ISKI untuk Strategi Daur Ulang yang Lebih Baik?

Peralihan dari laminate ke mono-material seperti PE mono (PE film) atau mono PP (PP film), didukung regulasi global dan tren flexible packaging, adalah strategi krusial untuk mendukung kemasan daur ulang di Indonesia. Di sinilah peran ISKI (PT. Induksarana Kemasindo) menjadi penting:

  • Berpengalaman & Terpercaya: ISKI telah berdiri sejak tahun 1995 dan berkomitmen penuh dalam industri kemasan. Dengan pengalaman puluhan tahun, ISKI memahami kualitas kemasan untuk makanan maupun farmasi.
  • Kualitas Standar Mutu Terjamin: ISKI menerapkan standar tinggi (FSSC 22000) dalam proses produksinya. Artinya, setiap kemasan yang dihasilkan telah memenuhi syarat keamanan pangan dan higienitas.
  • Teknologi Canggih & Custom: Sebagai produsen besar, ISKI dilengkapi mesin-mesin modern untuk menghasilkan kemasan dengan presisi tinggi. ISKI dapat membantu kamu membuat desain cetak logo atau branding sesuai kebutuhan.
  • Harga Bersaing: Berkat skala produksi massal dan efisiensi pabrik, harga yang ditawarkan ISKI relatif kompetitif. Kamu bisa mendapatkan packaging berkualitas premium dengan harga yang lebih rendah, sehingga menekan biaya operasional tanpa mengorbankan kualitas kemasan.
  • Dukungan & Layanan Profesional: Dengan pengalaman lebih dari dua dekade, ISKI selalu memberikan layanan pelanggan yang responsif. Mulai dari konsultasi pemilihan jenis kemasan hingga support R&D untuk inovasi kemasan baru. Bagi pebisnis, memiliki supplier kemasan yang responsif dan dapat diandalkan tentu sangat krusial.

Dengan memilih solusi kemasan dari ISKI, bisnis kamu mendapatkan mitra yang tidak hanya menghadirkan inovasi berkelanjutan, tetapi juga membantu dalam pengurangan sampah plastik, menjaga keberlanjutan lingkungan, serta memperkuat citra brand sebagai perusahaan yang peduli pada lingkungan dan konsumen.

Share the Post:

Related Posts